Karena Sonlis…

H-7 Sonlis 2016.

Tak terasa, seminggu lagi Sonlis akan memasuki umurnya yang kesembilan. Orang boleh bilang ini klise biasa,  tapi gua tetap yakin bahwa “what Sonlis is” goes beyond its title. That it’s not only and S, accompanied by an O, next to an N , who’s adjacent to L, followed by an I and completed with an S. It’s more than just a name; it’s a living, souled entity.


 

Gua mulai kenal Sonlis sejak 6 tahun lalu: di Sonlis 2010. Pas itu gua yang masih kelas 7 di SMP NFBS (Nurul Fikri Boarding School)  nyoba ikut lomba story telling. And guess what? Gua kalah. Kelah telak malah. Tanpa dilebih-lebihkan, I’ve never joined a tournament as competitive and vigorous as this one. Dan dari Sonlis juga gua kenal ada sekolah keren yang bernama IC. Yang full-beasiwa, memiliki kurikulum yang kuat baik di pengetahuan umum maupun agama dan mempunyai event sekece Sonlis. Agaknya, seumpama gua gak ikut Sonlis saat itu, gua mungkin mendaftar di SMAN 8 Jakarta atau sekolah lain di dekat rumah.

Sejak saat itu gua tiap tahun terlibat dalam Sonlis. Secara langsung maupun tidak langsung; sebelum menjadi siswa IC hingga akhirnya bisa bersekolah di situ. Tahun 2011 sebagai ketua OSIS gua menjaring siswa terbaik di NFBS untuk bisa merebut piala Sonlis; namun sonlis kembali membuktikan kualitas perlombaannya dan kami pulang tanpa satu piala pun. Tahun 2012, saya mengikuti lomba science competition; and again we lose. Tahun 2013, gua akhirnya berganti peran –dari peserta, menjadi panitia. Berada di seksi Publikasi gua merasakn tantangan-tantangan baru yang tidak mudah. Gua masih bisa mengingat keping-keping momen itu: pejuang Hydro Coco, sang Jendral, dan teriakan “To The World in One!”. Tiap episode memiliki ceritanya sendiri; and I treasured every single moment of it as an unreplacable gift in my life.


 

Maka datanglah tahun 2014. “Ini lah waktu kita!”, begitulah kami lantangkan. “Bersama-sama kita akan berhasil!”, begitulah kami gemakan. Membuat sebuah “proyek mercusuar” di sekolah seperti IC itu tidaklah mudah. Di dalam satu tim kepanitiaan, berhimpun 200 otak cerdas dengan kreativitas yang meluap ke berbagai arah-arah; adalah sebuah tantangan untuk membendung potensi besar ini lalu meleburnya menjadi sebuah kekuatan besar. With our dream set in front of our very eyes, we crossed the start line. Setelah rapat pleno 1 diakhiri, kami pun mulai melangkah dengan semangat dan optimisme yang begitu membara. Di tengah perjalanan, sayangnya, idealisme kami harus berbenturan dengan realita yang tidak selalu manis. Tetapi justru dari sinilah kami belajar banyak hal:

Di sini kesabaran kami dicoba | menapaki satu persatu segala birokrasi yang ada; merasionalkan tahap-tahap yang kadang tiada akal sehat bisa terima.

Di sini kami terfahamkan fatalnya pengentengan | karena rusaknya sebuah flashdisk kecil, kurangnya segores tanda tangan,  hilangnya selembar struk mungil dapat menjadi mimpi buruk yang berbuah seribu penyesalan.

Di sini kami belajar untuk sedikit sinting | andai kami tidak cukup gila untuk memulai theme song perdana, menerbangkan balon udara, atau membuat flashmob seluruh panitia, hari itu pastilah terasa kering

Di sini kami belajar untuk beresonansi | mengubah segala getar gentaran menjadi harmoni; tak peduli perihnya berkorban karena yakin akan manisnya berempati

Di sini kami sejenak memutus urat kewarasan | Tapi dari sinilah pada kami tumbuh bibit bibit kedewasaan

Hei teman-teman panitia Sonlis 2016, gua yakin apa yang kami lewati tiada jauh berbeda  dengan apa yang kalian sekarang tapaki. Karena di tahun manapun, percaya atau tidak, relung tebesar pada Sonlis bukanlah milik kesibukan ataupun kerja keras, melainkan penyesalan. “Andai saja sejak dulu begini”, “coba aja pas tadi begitu” pastilah ada di hati siapapun pada perjalanan proyek ini . Namun saat detik-detik terkahir telah tiba, kita harusnya tersadar bahwa tak ada waktu lagi itu melihat kebelakang. Di satu pekan terakhir ini, maka, singkirkan dulu segala kekecewaan dan fokuslah menyempurnakan segala peluang yang masih ada di depan.

Kawan-kawan panitia Sonlis 2016, di tengah segala frustasi, kebingungan dan keputusasaan kalian di pekan penentuan ini, tetaplah yakin bahwa kalian sudah lebih dari hebat. Terlepas dari “mana nih inovasi taun ini?!”, “ah gitu-gitu aja kaya taun lalu”, “katanya mau ada 2000 peserta, kalo gini terus ga bakal bisa kali”, percayalah bahwa Sonlis manapun itu pasti spesial; any sonlis is outstanding in its own because it exists that way. So wipe out your worries, cherish every last second from now on and stay Sonlis –stay true and awesome.

Last, gua dan kami semua pun tak sabar menanti, kejutan apa yang akan kalian siapkan pekan depan nanti!

Think. Act. Believe.

From one of Sonlis’ faithful comrade

Advertisements

2 thoughts on “Karena Sonlis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s