“Kita Adalah Umat Pergerakan” – Daurah Halaqah ICS 2015

Halaqah. Artinya sangat sederhana: lingkaran. Lingkaran adalah bentuk geomoetri yang sangat unik. Ia spesial, satu-satunya bangun dua dimensi yang tidak memiliki sudut. Ia merupakan simbol kesinambungan, sebuah daur yang tak akan putus; sebagaimana ukhuwah ini, tali abadi yang tak akan pernah mati.


Di sini, saya akan bercerita tentang sebuah angan kami yang akhirnya -di saat saat terakhir sebelum saya ke Jepang- bisa terlaksana. Inilah dia, DAURAH HALAQAH MAN INSAN CENDEKIA SERPONG.

MIMPI

Selama kurang lebih 3 tahun saya telah menjalani halaqah tarbiyah di Insan Cendekia, namun seiring berjalannya waktu, halaqah hanya hadir sebagai rutinitas belaka; tanpa ruh, hampa makna. Hingga suatu saat kita menghendaki sebuah perubahaan. Kami tersadar bahwa suatu pergerakan tidak akan langgeng tanpa sebuah sistem. Atas dasar itulah, kami memuat struktur halaqah dengan Muhammad Ilham sebagai ketuanya.

Saya bersama Pak Ketua. Asalnya Cirebon. Alumni SMP Al-Multazam. Peraih Medali Perak Kebumian OSN 2015
Saya bersama Pak Ketua. Asalnya Cirebon. Alumni SMP Al-Multazam. Peraih Medali Perak Kebumian OSN 2015

Sebelum saya lanjutkan, perlu saya garas bawahi bahwa halaqah tarbiyah di Insan Cendekia mungkin berbeda dengan kebanyakan sekolah-sekolah lain. Di sini, halaqah bukan merupakan bagian dari kurikulum. Tidak ada jadwal waktu khusus yang diluangkan untuk kegiatan ini. Pun, keanggotaan halaqah ini bersifat “sukarela”. Di satu sisi, sistem “sukarela” membuat anggota halaqah memang orang-orang yang benar-benar terpanggil dan komitmen untuk mengikuti majelis ilmu ini; tidak seperti di sekolah lain yang “mewajibkan” halaqah, sehingga ada yang menjadi anggota namun merasa terpaksa. Di sisi lain, titel ke-“sukarela”-an kadang dijadikan alasan bagi anggota untuk absen semaunya. Haduuuh ಠ_ಠ

Kondisi terakhir yang berbeda adalah kehadiran murabbi. Saya sangat bersyukur dapat menjadi mutarabbi dari Ust. Heri Efendi, murabbi kami. Beliau adalah Sekretaris Umum Komite Nasional untuk Rakyat Palestina. Menduduki jabatan se-strategis itu pastinya membuat beliau diliputi kesibukan. Konsekuensinya, beliau cukup jarang hadir dalam majlis kami, sehingga kami pun dituntut bisa melakukan halaqah mandiri.

Ust. Heri yang ada di tengah
Ust. Heri yang ada di tengah | Misi KNRP untuk mengirimkan Bantuan Kemanusiaan bagi Palestina
Logo KNRP
Logo KNRP

Kembali lagi ke cerita. Jadi semenjak kepengurusan halaqah terbentuk, kami mulai membuat ide-ide baru  untuk menjadikan halaqah kami lebih produktif, lebih eksis, dan varokah :v. Latas muncullah usulan-usulan seperti hukuman membaca 1 juz bagi yang tidak hadir halaqah, pencarian murabbi baru (pada akhir kelas 3, Ust. Heri dikabarkan akan resign dari IC dan berpindah ke Bandung) hingga pembuatan seragam halaqah. Pada waktu itulah tercetus sebuah ide -atas saran dari Ust. Heri juga- untuk melakukan Daurah (Pembekalan) Halaqah Tarbiyah. Saat itu kami belum tau kapan, dimana dan seperti konsepnya. Namun kami yakin betul bahwa acara seperti akan lebih bermanfaat daripada menganggur di rumah saat liburan.

RINCI

Kami pun mulai membuat rencana spesifik tentang kegiatan ini. Setelah berkomunikasi dengan murabbi kami -dan beberapa kali berganti tanggal- maka dipilihlah tanggal 7-9 Juli sebagai waktu pelaksanaan. Keputusan itu diraih setelah siswa IC telah meninggalkan asrama untuk liburan sejak 21 Juni 2015. Dengan kondisi yang sudah terpencar, maka dipilihlah Azka  yang bertugas berkomunikasi dengan murabbi.

Setelah diputuskan tanggal tersebut, saya baru ingat bahwa di tanggal itu saya akan berada di Darul Quran Mulia Bogor untuk menjalani program kamp tahfiz, dari 29 Juni hingga 12 Juli 2015. Maka saya pun mencoba melobi pihak panitia untuk mengizinkan saya meninggalkan kegiatan sementara. Awalnya permintaan saya ditolak, but with some reasoning, I got the permission to go!

1 - lobi yang berbuah manis
1 – lobi yang berbuah manis
2 - lobi yang berbuah manis
2 – lobi yang berbuah manis

Tak lama, Azka mengabarkan bahwa sang murabbi bersedia menjemput anggota halaqah yang berdomisili di Jabodetabek dengan mobilnya. Ia meminta kami untuk berkumpul di Pasar Rebo. Namun berhubung kebanyakan dari kami terbiasa menggunakan transportasi KRL (Commuter Line) maka tempat berkumpul pun dipindah ke Stasiun Lenteng Agung. Semua persiapan telah selesai, jadwal daurah telah kami terima dan kami tinggal menunggu tanggal main saja. Sayang sekali saat itu Azka, yang ngurus perjalanan ini dari awal, justru tidak bisa ikut karena abinya sedang sakit. Semoga abi kamu sehat selalu ya Azka.

AKSI

6 Juli

Setelah mendapat izin dari pihak panitia kamp tahfiz, saya bersama Jundi -panitia yang mengantar saya dengan motornya- melaju ke Stasiun Lenteng Agung, rendez-vous point yang sudah disepakati. Sembari menunggu sang murabbi, kami beristirahat di sebuah masjid dekat stasiun tersebut. Setelah lengkap semuanya -Saya, Salman, Fauzan, Mujahid dan Taufik- kami pun berangkat bersama sang murabbi ke Bandung sekitar jam 4 dengan mobilnya.

Salman si soleh | membaca Al Quran selama perjalanan
Salman si soleh | membaca Al Quran selama perjalanan

Kami sampai di rumah sang murabbi, di dekat Balai Benih Ikan Ciparay, malam hari sekitar jam 8an. Saya sangat terharu, kedatangan kami disambut ramai….oleh gonggongan anjing peliharaan yang tampak risih dengan kehadiran kami -_- Ternyata sebelum kami Ikbar telah terlebih dahulu hadir di rumah Ust. Heri. Saya terharu si Ikbar jauh-jauh datang dari Purwokerto untuk ikut kegiatan ini. Semoga berkah ya, Bar :’)

7 Juli

sahur pertama kami
sahur pertama kami

Pagi hari sekali kami bangun untuk sahur. Dengan menu khas Sunda, kami menikmati sahur sambil bercengkerama di ruang tamu rumah sang murabbi. Setelah sholat subuh dan al matsurat, kami diminta bersiap-siap, mandi, dll. karena kegiatan dauroh akan dimulai pada jam 10 pagi. Sekitar setengah jam sebelum daurah dimulai, alhamdulillah datang rombongan terakhir dari peserta daurah ini: Helmi, Rifki dan Ilham sang Pak Ketua. Salut deh sama, Helmi, dia juga rela datang dari Lampung untuk ikut acara ini. Setelah, acara selesai katanya mau langsung pulang ke rumah. Waah, terharu lagi da :’)

Sebelum sesi daurah dimulai, kami diberi kesempatan untuk “mencoba” menjadi guru ngaji di musholla yang dikelola murabbi kami. Anak-anaknya masih kecil, kebanyakan perempuan, namun mereka sangat semangat untuk belajar. Sayangnya saya tidak kebagian murid T_T

mengajar ngaji dengan buku Iqro (yang tak pernah tergantikan sepanjang zaman)
mengajar ngaji dengan buku Iqro (yang tak pernah tergantikan sepanjang zaman)

Saya, yang tidak kebagian murid pun mengobrol dengan istri murabbi kami. Beliau adalah Usth. Kusdiniyah, biasa dipanggil Bu Dini.

“Ya, jadi jika ditanya kenapa kami berpindah dari IC, maka beginilah…Umi disini dengan Abi mengelola musholla kecil ini.”

Beliau melanjutkan,

“Banyak dari anak-anak kecil ini yang tidak merasakan kasih sayang ibu. Tidak sedikit dari ibu mereka yang menjadi buruh di Ibu kota. Sehingga mungkin tanpa kehadiran kami, mereka tidak akan pernah tau cara solat dan mengaji. Bahkan banyak dari pemuda-pemuda sini yang tidak berpuasa. Kalau pun berpuasa, itu tidak lain supaya tidak malu dengan tetangga. Bahkan melihat musholla ramai dengan kehadiran kalian, mereka juga heran. Karena biasanya musholla pasti sepi”

Saya pun terus mendengar,

“Sedikit lucu memang kalau Umi meninggalkan karir 18 tahun di IC hanya untuk mengurus sebuah musholla kecil. Namun ini, tanggung jawab Umi. Jika tidak ada yang bergerak, maka masyarakat di kampung Umi tidak akan berubah.

Lalu ia pun mengakhiri,

Yah tidak apa-apa kita mulai sedikit-sedikit. Tidak usah kita targetkan setiap minggu ada majlis ta’lim, masyarakat sudah senang datang ke musholla saja sudah sebuah pencapaian. Maka Umi berterimakasih sekali kalian bisa hadir meramaikan musholla kecil ini”

Percakapan tadi membuat memecahkan misteri pengunduran diri Bu Dini sebagai guru IC. Sungguh idealisme yang sangat mulia. Beliau memilih untuk hijrah dari comfort zone sebagai guru sekolah sekelas Insan Cendekia untuk mengabdi pada masyarkat. Mabruk ya Ustadzah 🙂

Selesai mengajar iqro, murabbi kami datang dan memulai daurah dengan taaruf. Di sini beliau juga menceritakan tentang alasan lain ia meninggalkan IC. Beliau memiliki visi untuk membuat sebuah pesantren, dengan tanah di sekitar rumahnya, yang memfokuskan santrinya untuk memiliki skill  kewirausahaan. Ia ingin menjadikan komunitas sekitarnya hidup dan berkembang dari munculnya usaha-usaha rakyat, sekalipun itu kecil. Pesantren yang ia usung hendak dinamakan Pesantren Karya.

murabbi memandu taaruf
murabbi memandu taaruf

Saya pun jadi teringat materi teori pertumbuhan ekonomi yang saya pelajari di SMA. Kita akan teringat dengan teori yang dikembangkan oleh Joseph Alois Schumpeter. Ia berpendapat bahwa

faktor utama yang menyebabkan perkembangan ekonomi adalah proses inovasi dan pelakunya adalah para innovator atau entrepreneur (wiraswasta). Kemajuan ekonomi suatu masyarakat hanya bisa diterapkan dengan adanya inovasi oleh para entrepreneur. Dan kemajuan ekonomi tersebut diartikan sebagai peningkatan output total masyarakat

Namun, sang murabbi pun bercerita bahwa untuk sekarang, beliau belum memiliki tanah dan modal. Yang ia punya hanyalah SDM yang jumlahnya tidak banyak. Itu pun juga dari keluarga intinya sendiri; Bu Dini (istrinya) dan Kang Yus (Adiknya). Walau demikian, beliau tetap memiliki optimisme tinggi bahwa cita-citanya bisa tercapai. Allahumma Amiin.

Setelah sholat dzuhur kami beristirahat (qailulah). Singkat cerita, kami bersiap-siap untuk berbuka dan sholat maghrib.

ngabuburit depan rumah murabbi
ngabuburit depan rumah murabbi

Singkat cerita lagi, kami melakukan sholat isya dan tarawih dengan murabbi kami sebagai imamnya. Yang berbeda dengan sholat tarawih di musholla tersebut adalah pembagian rakaatnya. Di sana, sholat tarawih 8 rakaat dibagi 4 rakaat – 4 rakaat sehingga hanya ada 2 salam. Setelah tarawih, para jamaah disuguhi teh dan cemilan. Bu Dini bercerita bahwa memang setiap hari para masyarakat disediakan jamuan seperti itu sebagai salah satu cara untuk menarik khalayak untuk sholat tarawih. Kami pun beranjak istirahat, walau ada beberapa bocah yang malah nyari seblak haha.

seblak: gudangnya MSG -_-
seblak: gudangnya MSG -_-

8 Juli

Saya adalah tipe orang yang suka bangun di malam hari, penyebab utamanya adalah ingin ke kamar mandi. Nah, saat saya ke kamar mandi saya kaget mendapati seseorang tak dikenal tertidur di ruang tamu. Saya pun menghiraukan rasa heran tersebut dan fokus dengan “bisnis” saya di kamar mandi.

Ternyata di pagi hari sang murabbi memperkenalkan si “orang misterius ini”. Beliau adalah Kak Hafidz, Alumni IC Angkatan 13 yang juga merupakan mutarabbi Ust. Heri selama masih menjadi murid IC. Saya pun langsung “ngeh” karena pernah mendengar nama beliau dari adik kandungnya, Ka Jaisyi, Alumni IC Angkatan 16 yang cukup dekat dengan saya. Keluarga mereka cukup legendaris, karena ada 3 bersaudara (Hafidz-Jaisyi-Farisa) yang bisa tembus susahnya seleksi PPDB IC. Hebatnya lagi mereka (Hafidz-Jaisyi) merupakan Koordinator Divisi Bahasa OSIS. Mungkin Farisa juga menyusul hehe.

Keluarga H. Abdul Kharis (DPR F-PKS 2014-2019) | Ada 8 bersaudara, ramenyaa | Ada Hafidz (An.13), Jaisyi (An.16) dan Farisah (An.20) | Hayoo tebak yang manaaa
Keluarga H. Abdul Kharis (DPR F-PKS 2014-2019) | Ada 8 bersaudara, ramenyaa -_- | Ada Hafidz (An.13), Jaisyi (An.16) dan Farisa (An.20) | Hayoo tebak yang manaaa

Setelah subuh kami berkesempatan untuk mendapat materi dari Ka Hafidz ini. Subhanallah, ternyata kaka ini sosok yang luar biasa. Beliau adalah mantan Ketua GAMAIS (Keluarga Mahasiswa Islam) di Institut Teknologi Bandung. Ia sendiri merupakan siswa STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika) yang memiliki passing grade tertinggi se-Indonesia. Yang paling kece nih -siap siap ya- beliau akan berangkat ke Swedia untuk mengambil S2 di Lund University dengan beasiswa penuh. Subhanallah.

Pagi itu menjelaskan sebuah istilah yang sering kita dengar: Ghazwul Fikri – Perang Pemikiran. Setelah selesai mendengarkan materi kami pun mengambil foto bersama. Btw, beliau berangkat ke Swedianya pas tanggal 17 Agustus loh. Wahh upacara di pesawat dong haha. Sekitar jam 9an, Ka Hafidz pun pamit. Semoga sukses selalu ya ka di Swedia 😀

materi Ghazwul Fikri oleh Ka Hafidz
materi Ghazwul Fikri oleh Ka Hafidz
20150708_074938
di depan tempat penginapan (?)
20150708_075604
#eaa

Setelah beristirahat sejenak kami kembali menjalani daurah. Kali ini sang murabbi meminta kami untuk membuat checklist materi tarbiyah untuk mengetahui mana yang sudah paham dan mana yang belum. Pada kesempatan itu juga kami dilatih menjadi muballigh (penyampai); kami disuruh mencoba menyampaikan materi tarbiyah dengan baik dan benar.

Setelah ashar, kami diajak murabbi untuk tafakkur alam. Fauzan, anak dari Ust. Heri, juga diajak. Bocah ini minta mampir dulu ke pasar kaget di depan Balai Benih Ikan. Biasa lah anak kecil, suka tersihir dengan mainan-mainan. Setelah itu barulah kami keliling-keliling. Ke kolam ikan, ke sawah, ke sungai wahhh pokoknya seru deh. Kalau ga salah, di saat itu juga Ikbar, Salman dan Saya membuat video untuk menyemangati teman saya Nagita yang akan berangkat ke International Biology Olympiad di Denmark pada hari yang sama. Haha sempat-sempatnya aja ya.

IMG_0075
the best shot in this trip
laskar di atas batu
laskar di atas batu
bikin video buat si Nagita. Alhamdulillah akhirnya dia dapet medali perunggu IBO 2015 :')
bikin video buat si Nagita. Alhamdulillah akhirnya dia dapet medali perunggu IBO 2015 :’)

Nah, setelah kami jalan-jalan, ternyata si Taufik sudah janjian dengan pihak yang membuat seragam halaqah kami, yang ternyata juga kakak kelasnya dulu di Husnul Khotimah. Setelah penantian yang begitu panjang, akhirnya angan kami untuk memiliki seragam halaqah akhirnya tercapai :’)) Pokoknya kalau pake baju itu, saya serasa jadi kaya anggota White Lotus, organisasi rahasia yang di Avatar itu lohh. Langsung deh capcus kita foto bersamaaa

Paman Iroh, pemimpin Organisasi Teratai Putih (White Lotus)
Paman Iroh, pemimpin Organisasi Teratai Putih (White Lotus)
ifthor terakhir dengan seragam halaqah
ifthor terakhir dengan seragam halaqah
Bersama Sang Murabbi, Ust. Heri Efendi, Lc
Bersama Sang Murabbi, Ust. Heri Efendi, Lc | Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya~
Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya~
(dari atas kiri ke kanan): Mujahid, Helmi, Fauzan, Gilang, Salman, Rifki, Ikbar, Ilham, Taufik

9 Juli

Hari terakhir. Aktivitas kami tunggal: BERES-BERES. Kami harus bergerak cepat karena murabbi kami ternyata di hari yang sama akan berangkat ke Lebanon untuk mengantarkan donasi KNRP pada pengungsi Palestina di negara tersebut. Namun beliau tetap bersedia untuk memberikan kami tumpangan.

Prioritas pertama untuk diantar adalah si Helmi, karena flightnya ke Lampung berangkat jam 07.30 pagi. Menuju bandara ada Taufik, Ikbar, Rifki dan Ilham yang turun di perjalanan. Pas sudah di dekat Bandara Husein Sastranegara, ternyata macet berat padahal udah tinggal setengah jam-an menuju keberangkatan. Akhirnya terpaksa si Helmi diturunin di jalan dan dia naik ojek deh ke bandaranya.

Tinggalah kami berlima: Ust. Heri, Fauzan, Mujahid, Salman dan Saya di mobil tersebut. Sebenarnya pas lagi di tol, murabbi kami sempat merasa ngantuk. Terus nanya, “ada yang bisa gantiin saya sebentar tidak?”. Terus si Salman bilang kalo saya bisa naik mobil. Padahal saya mah apa atuh, masih newbie. Kan berabeh kalo usatadnya malah gajadi ke Lebanon gara-gara saya, nanti kasian orang Palestinnya ._.

Kami pun diturunkan di stasiun KRL (lupa yang mana persisinya). Saya bersama Salman menaiki jurusan arah Pasar Serpong dan turun di situ. Kami berpisah di sana, karena saya harus kembali ke kamp tahfiz di Darul Quran Mulia tepat waktu, sesuai janji saya pada panitia. Maka berakhirlah perjalanan 4 hari yang sangat berkesan itu. Alhamdulillah dalam keadaan selamat.

Beberapa hari setelahnya, saya memantau kegaitan Ust. Heri di Lebanon. Alhamdulillah beliau juga bisa menjalankan tugasnya dengan baik hingga kembali lagi ke Indonesia.

1 - Lebanon
1 – Lebanon
2 - Lebanon
2 – Lebanon
3 - Lebanon
3 – Lebanon

EPILOGUE

Terima kasih banyak ikhwatii fillah. Teruslah dekap jalan dakwah ini. Miliki prasangka pada Sang Khaliq, bahwa dirimulah yang diutusnya untuk menjadi agen perubahan bagi insan disekitarmu. Nahunu qaumun amaliyyun. Kita adalah umat pergerakan.  Maka teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s