NYU Abu Dhabi : (Bukan) Sebuah Kegagalan -part 4- [FINISH]

“tolong ambil minyak kayu putih ya. makasih”, pinta saya masih merintih.

Ujian-ujian di sekolah terus berjalan hingga sampailah saya di hari Sabtu. Saya sudah berencana untuk istirahat full malamnya hingga esok hari Minggu. But I something really vital just missed my attention. Saya lupa bahwa pada esok hari adalah deadline pengumpulan nomination essay untuk pendaftaran NYUAD saya. Sebenarnya nomination essay ini sifatnya sunnah, namun jika kita bisa mengumpulkan, our chance to be accepted grows higher.

Jadilah saya memaksakan diri untuk begadang, brainstorming mencari ide untuk membuat essai yang pantas. Namun apa daya, tubuh ini sedang lemah, mata ini tidak kuat, kalau dipaksakan menulis pun pasti kualitasnya zero. Maka, saya mencoba untuk istirahat sebentar dan meminta teman saya untuk membangunkan saya di tengah malam.

Singkat cerita, hari telah berganti dan di tengah malam saya malah semakin ngantuk. Nenek moyang bilang kalau ngantuk ya minum kopi. However, it turned out that my stomach was intolerant to coffee, especially when it’s empty. Lantas muallah saya dan muntahlah kemudian. Rasanya itu, ah sudahlah…sudah benar-benar semaput. Sambil merintih saya minta tolong temen yang barusan ngebangunin saya untuk mengambil minyak kayu putih, hoping that it’ll alleviate the pain. Namun mungkin tubuh ini sudah berontak minta istirahat, saya tidak bisa menlanjutkan menulis essai lagi. Maka saya pun memutuskan untuk tidur.

muntah pelangi aja dah biar keren -_-9
muntah pelangi aja dah biar keren -_-9

Esoknya, badan saya sudah agak enakan. Saya shikat miring  kejar tancap buat menyelesaikan essai. Tidak tahu ilham apa yang datang, tapi pagi itu saya lancar banget nulisnya. Alhamdulillah, jam 11 siang essai saya kelar, Alhamdulillah (~^3^)~


LIBUR SEMESTERAN

Perang telah usai. UAS terakhir dalam masa belajar 3 tahun di IC telah saya lalui. Sekarang waktunya liburaaan!

Jauh hari sebelum liburan dimulai, saya dan teman saya Aldo telah membuat rencana liburan bersama. Saya -untuk pertama kalinya- akan berkunjung ke Bandar Lampung, kota asal bocah ini. Saya berangkat ke sana bersama dengan adik kelas saya, Helmi, dengan menggunakan -untuk pertama kalinya juga- kapal feri!

cihuy naek kapaal
cihuy naek kapaal
di atas ferii
di atas feri bareng Helmi
hail Lampung (?)
hail Lampung (?)

Di Lampung ini saya sempet mampir ke rumah Helmi, rumah Qori dan tentunya rumah Aldo. Mantaplah, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui (gitu kan ya peribahasanya?). Tapi, tubuh ini lalai. Harusnya mah, pas baru dateng ke Lampung istirahat dulu, eh malah pas baru sampai di Lampung sore hari, malamnya sudah minta jalan. Cerdasnya lagi, saya makan Tom Yam (makanan Thailand yang cukup asam) padahal udah tau punya maag. Alhasil, saya sempet sakit di Lampung. Sempetnya, itu ga cuma 1-2 hari, tapi hampir 5/6 perjalanan -_- Untung masih ada yang mau ngurusin :v (Aldo and Families, you da real MVP)

ditraktir makan Tom Yam
ditraktir makan Tom Yam
ujung-ujungnya di bawa ke RS, untung tidak usah opname
ujung-ujungnya di bawa ke RS, untung tidak usah opname
berkunjung ke rumah Qori
berkunjung ke rumah Qori
di sebuah spot (?)
di sebuah spot (?)

Di tengah perjalanan di Lampung ini, saya teringat seuatu: SEKARANG ADALAH TANGGAL PENGUNGUMAN TES SAT BULAN DESEMBER! Boooh, galaunya itu, ngeri-ngeri sedaplah. Seingat saya, pas buka website SAT bukan saya yang pertama lihat; abang tak sanggup T_T. Maka saya suruhlah Aldo melihat dulu. Lalu dia pun tersenyum, gak tau tersenyum bangga, atau jangan-jangan justru…ah sudahlah, saya harus liat sendiri hasilnya. Saya ingin segera tau, apakah di kesempatan terakhir ini, nilai SAT mencapai target saya yaitu diatas 2000. Dan inilah hasil yang saya lihat pada hari itu :

Inilah nilai SAT terakhir saya.
Inilah nilai SAT terakhir saya.

Kaget? Tidak…tapi lebih dari itu. Saya merasa sangat kecewa dan sedih. Setelah orang tua rela mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk les bersama Ms. Aynih, nilai SAT tetap saja jelek. Saya mendapatkan total skor 1860 hanya naik 60 dari tes sebelumnya. Bahkan nilai Reading saya menurun, yang awalnya 530, sekarang malah cuma 500. Sepertinya keputusan saya melihat nilai SAT pada saat itu kurang tepat; saya harus mengakhiri liburan saya di Lampung dengan sendu. Maka pada malam hari itu saya berdoa, kalaupun SAT saya belum sempurna, aspek-aspek lain dari saya harus bisa tampil lebih bersinar pada seleksi NYUAD nanti.

Esok harinya, saya pun menyudahi trip saya di Lampung. Bagaimana pun sedih yang dirasa, saya pun berusaha tetap memberikan senyuman pada si tuan rumah yang telah rela membuat perjalanan saya begitu berkesan. Spasiba balshoi, Aldo!

DSC_0119
Bandara Radin Inten II | Cheer up, Gils!

JOGJA

Dari Lampung, saya tidak pulang ke Jakarta melainkan melanjutkan liburan bersama keluarga di Jogja! Dari Lampung saya berangkat dengan maskapai Sriwijaya Air menuju Jakarta, lalu disambung dengan Batik Air ke Jogja. Apesnya, kali ini Sriwijaya ingin unjuk “reputasi”nya; pesawat di delay 2 jam! Waduh!

Sampai di Jakarta, saya pun sangat panik. Karena tinggal 15 menit lagi menuju keberangkatan Batik Air ke Jogja! Naasnya pula, Batik Air ini berangkat dari terminal yang berbeda, sehingga saya harus memakai jasa ojek dan merogoh kocek 50 ribu buat mengejar waktu. Saya pun berlari dan berlari. Dramatis banget udah kaya Amazing Race , saya mandi keringat; by this, I literally mean it. Namun apa daya, penerbangan menuju Jogja telah berangkat. Double-Combo-Stress nyaa itu…mak nyoss.

Dengan selfie, saya mencoba menghilangkan stress ini | Amboyy, keringatnyaa...
Dengan selfie, saya mencoba menghilangkan stress ini | Amboyy, keringatnyaa…

Sempet kepikiran saya ga jadi berangkat ke Jogja, mending pulang ke rumah aja. Tapi, kondisinya keluarga sudah otw Jogja naik mobil. So, I unsincerelly bought another ticket, and FYI it was Christmas Eve, so you can get a hint of its price -_-9

Saya cukup beruntung untuk mendapatkan tiket dengan selisih waktu penerbangan yang tidak begitu jauh. Saya juga bela-belain berangkat cepat, karena saya sudah janji sama teman saya, Gantang, buat nonton film The Hobbit: The Battle of Five Armies. Dan kondisinya, dia udah cao ke Jogja dari Klaten. Kan ga enak kalo tiba-tiba saya gajadi dateng. Tapi syukur, saya dateng on time dan bisa menepati janji saya, hahay.

mampir dulu ke Ambaruko
mampir dulu ke Ambaruko
moto pake timer, sambil was was takut kameranya diembat orang
moto pake timer, sambil was was takut kameranya diembat orang
saksi bisu perjuangan abi, tapi udah pudar yah ._.
saksi bisu perjuangan abi, tapi udah pudar yah ._.

Di Jogja inilah saya menanti detik detik terakhir sebelum saya mengeklik tombol SUBMIT di pendaftaran online NYUAD. Setelah nilai SAT, IELTS, rekomendasi, rapor, essai, slip gaji, data pajak saya siapkan dan saya unggah…tombol penentuan itu pun saya tekan.

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM…KLIK!

semua dokumen berhasil diupload dan dengan resmi saya telah menyertakan diri dalam seleksi mahasiswa NYUAD
semua dokumen berhasil diupload dan dengan resmi saya telah menyertakan diri dalam seleksi mahasiswa NYUAD

Fiuuuh, leganyaa… 30 Desember 2014, tanggal yang akan selalu saya ingat. Di saat teman-teman saya dan orang-orang di luar sana sedang menikmati masa-masa pergantian menuju Tahun Baru 2015, saya ngendok di kamar untuk merampungkan apa telah saya mulai. Ikhtiar pun telah saya tuntaskan, sekarang waktunya untuk tawakkal. As the calender change, I open the year with a big hope. That my dream to travel the world will commence from the “arabian parlor” whom I adore: Abu Dhabi.


ROADHSOW IAIC: Tampil Beda

Masa-masa kelam anak boarding itu kalau sudah akhir masa liburan; tiap detik akan diisi kegalauan, dan tiap kali kita bangun di pagi hari…kita akan dicekam dengan fakta bahwa “liburanmu telah berkurang sehariiii..hiii~~” . Dan pada saat-saat H-1 kembali ke boarding, pasti newsfeed FB dan timeline twitter akan dipenuhi status-status galau gundah para siswa yang akan kembali ke asrama.

Tapi tidak pada waktu itu, waktu libur semesteran tahun 2015. Saya justru sangat semangat kembali ke IC, karena semester 2 kelas 3 adalah waktu-waktu terakhir saya bersekolah di IC. Di semester ini pun, kami mulai disibukkan dengan aktivitas bimbel intensif untuk persiapan UN. Dan kali ini, saya sudah tidak perlu kabur-kaburan lagi karena saya hanya tinggal menunggu pengumuman NYUAD.

Lalu, mampirlah sebuah momen yang sangat menyenangkan: ROADSHOW IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia).

Poster Roadshow IAIC 2014. Basically, acara ini merupakan momen dimana para Alumni IC menhadirkan diri mereka kembali ke sekolah untuk menceritakan pengalaman hidup di kuliah kepada adik-adik kelasnya. Tak jarang pula, datang Alumni yang sudah "sepuh", menceritakan kisah kerja, mencari jodoh, dan bahkan membina keluarga
Poster Roadshow IAIC 2014. Basically, acara ini merupakan momen dimana para Alumni IC menhadirkan diri mereka kembali ke sekolah untuk menceritakan pengalaman hidup di kuliah kepada adik-adik kelasnya. Tak jarang pula, datang Alumni yang sudah “sepuh”, menceritakan kisah kerja, mencari jodoh, dan bahkan membina keluarga
Acara talkshow di Kantin Baru
Acara talkshow di Kantin Baru

Saya akui, Roadshow IAIC tahun ini memang tampil berbeda. Kami sebagai siswa IC pun merasakan fasilitas-fasilitas sekolah yang baru selesai dibangun dengan adanya acara Roadshow ini, seperti Kantin Baru yang digunakan saat Talkshow IAIC. Disinilah saya mendapati kehadiran kakak kelas itu, kakak kelas yang dulu mengikuti seleksi NYUAD dan menghibahkan buku SAT miliknya . Kakak kelas yang mewariskan cita-citanya pada saya dan mewasiatkan mimpi-mimpi yang mungkin belum ia raih.

Kami pun berbincang. Berbincang di saat pengumuman NYUAD akan saya lihat mungkin dalam beberapa jam kemudian.

“Wah Gilang, lama ya udah ga ketemu”, padahal belum ada setahun pisah haha

“Gimana, NYUAD-nya? Udah selesai daftar yaa. Bismillah, Gil…gua yakin lu pasti bisa masuk. Gatau kenapa, tapi gua bisa benar-benar yakin, Gil.”

Kami pun berbincang lama, dan saling menyemangati. Tak hanya dirinya, alumni-alumni lain juga tampak penasaran dengan hasil seleksi NYUAD yang saya tempuh.

“Pokonya lu harus kabar-kabarin gua ya, Gil. Ditunggu berita suksesnya”, ujar alumni angkatan 16.

“Sini pake HP gua aja liat emailnya. Gua jadi ikut penasaran kan”, tawar seorang alumni angkatan 17.

Roadshow IAIC pun usai dan satu per satu, para alumni mulai meninggalkan sekolah. Namun ada beberapa yang memutuskan tinggal dulu. Bahkan ada yang menginap di asrama!!! Mereka berjumlah 2 orang, 1 dari angkatan 13 yang biasa menerima orderan percetakan dari anak IC dan 1 dari angkatan 15 yang mantan ketua sonlis. Bersama mereka saya mengobrol banyak, pula tentang seleksi NYUAD.

Malam itu seharusnya merupakan saat dimana pengumuman saya muncul. Namun saat sebelum tidur saya menyempatkan melihat kembali email, pengumuman itu belum kunjung muncul. Tidurlah saya, dengan anggapan bahwa mungkin memang bukanlah waktunya.

Esok harinya, saya diajak ngobrol oleh salah satu teman saya. Namanya Faiz dan dia bercerita bahwa semalam ia bermimpi.

“Gil, aku mimpiin kamu lho. Kamu keterima di NYUAD. Terus kamu keliatan seneng dan bahagia banget”, jelasnya.

Ceritanya itu menumbuhkan harapan tersendiri buat saya. Namun apakah itu hanya sebuah mimpi? Sebuah ilusi yang tak lebih dari bayangan semu?


PENGUMUMAN

siap-siap tisu dulu yah

Hari terus bergulir, namun pengumuman NYUAD saya belum juga datang. Padahal di grup pendaftar NYUAD sudah banyak yang meng-post bahwa mereka telah menerima email invitation  ke Candidate Weekend, tahap terakhir seleksi.

Dari Uruguay
Dari Uruguay
Dari Czech Republic
Dari Czech Republic
Dari...emboh -_-
Dari…emboh -_-

Hingga datang suatu saat di hari Minggu, saya berkunjung ke kamar Farid di wisma IC. Pada waktu itu saya melakukan chatting dengan salah satu orang Indonesia yang juga apply  ke NYUAD dengan menggunakan laptop si Farid. Namanya Herry, asalnya dari Maluku. Perjuangan ia lebih hebat, bahkan ia rela jauh-jauh ke Surabaya untuk ikut SAT karena di Maluku tidak ada tempat tesnya. Inilah percakapan kami :

fb4
part 1
fb5
part 2

Dan tak lama kemudian EMAIL PENGUMUMAN PUN MUNCUL

part 1
part 1 : we are unable to offer you admission to any of NYU campuses this year
part 2
part 2 : dulu Mr. Shawn  ini juga pernah gagal keterima di kampus yang ia inginkan

Ha…

Jadi gagal ya…

Dengan bisu, saya mengisyaratkan pamit ke Farid. Saya kembali ke asrama dan menelfon ibu saya.

“Assalamualaikum Bunda”, ucap saya lirih

“Waalaikumsalaam. Iya nak, ada apa?”, jawabnya lembut

“Bunda…”, saya pun mulai terisak.

“Bunda…”, jujur saya tidak bisa menahan isakan ini

“Gilang?”

“Maaf Bunda…Gilang tidak diterima di NYUAD”

Saat kalimat itu usai terucap, saya menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang membuat saya begitu cengeng, begitu lemah. Tangisan pedih, manifestasi dari sebuah kekecewaan yang besar.

Saya tidak menyangka bakal menangis sebegitu parah. I mean, it’s not because I’m not going to NYUAD. Well though it matters, it’s not the main thing. Yang membuat kesedihan itu begitu memuncak adalah saat terbayang bagaimana perjuangan orang-orang disekitar saya.

Bagaimana Kepala Madrasah, Bu Penny, mengizinkan saya untuk bisa keluar madrasah tiap pekan. Bagaimana Miss Putri dan Miss Katie lelah saya sibukkan. Bagaimana Bu Rini menaruh harapan yang begitu besar di pundak saya, agar saya membuka jalan bagi adik-adik kelas saya di IC untuk masuk NYUAD. Bagaimana teman-teman dan alumni tak hentinya menghadiahkan doa dan motivasi bagi saya. Dan yang paling jelas, bagaimana ikhlasnya orang tua saya mendukung cita-cita anaknya: membelikan buku, menyediakan les SAT, mengantar saya bolak-balik, menyiapkan seabreg dokumen, dan tentu doa keduanya yang tak akan dihalangi ketujuh langit sekalipun. Semua harapan mereka telah saya hancurkan. SAYA GAGAL.

“Sudah Gilang…tidak usah seperti itu. Yang penting kan Gilang sudah usaha. Allah kan pasti akan memberikan yang terbaik. Semangat ya nak ya”

Mungkin diksi yang digunakan tidak persis seperti di atas. Namun yang pasti, percakapan itu membuat saya disadarkan bahwa sungguhlah sombong diri saya jika terus meratap dan kecewa.

Sungguhlah sombong jika saya hanyut dalam kesedihan dan lupa bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan; secara tidak sadar saya telah menghafal 200 vocab baru untuk tes SAT, sudah mendapati dokumen-dokumen pribadi telah ditranslate dalam bahasa inggris, mendapatkan softskill menulis essai, berpengalaman mengarungi sistem seleksi universitas di Amerika yang sangat kompleks, dan banyak yang telah saya peroleh selama menjalani tapak-tapak perjuangan ini.

Berita ini tidak saya berikan pada semua orang; namun pada akhirnya, semua orang pun mengetahui. Ya, mereka kaget. Tapi tak seperti yang saya kira, mereka tidak tampak kecewa. Saya sangat senang, mereka yang selama ini ada di belakang saya, tidak lelah mendukung saya untuk terus berjuang walau telah mendengar berita tersebut.

We got your back~
We got your back~ | dari Senda

 

percayalah!
percayalah! | dari Aldo

Di saat itu saya pun teringat bahwa ternyata Allah tidak mengabaikan doa saya. Saya ingat betul bahwa di tiap sujud terakhir saat sholat, yang saya ucapkan adalah: Ya Allah, semoga saya menjadi siswa di NYUAD jika itu yang terbaik untukku.Dan Allah adalah Dzat yang malu jika tidak mengabulkan doa hamba-Nya. Maka saya percaya betul, bahwa Allah pasti menyiapkan yang lebih baik; dan semoga saya termasuk hamba yang bersabar menunggu.


EPILOGUE

Sebagai penutup, saya ingin mengutip salah satu post yang dibuat salah seorang siswa di grup para pendaftar NYUAD yang seangkatan dengan saya. Untuk 60.000 siswa pendaftar New York University, ia mengatakan:

To the people who haven’t recieved the CW invite: As much as it might be hard to believe at the moment, this isn’t the end of your life. I ask you to please not overthink this. Don’t doubt yourself or your potential for a second. As cliche as it is, things really do happen for a reason. So, get yourself up and aim even higher. Great things are in store for you.

Indeed, great things await! And they are really eager waiting for us to catch them! So what are you waiting for? 😉

July 22, 2015

Plembon, Klaten.

Advertisements

3 thoughts on “NYU Abu Dhabi : (Bukan) Sebuah Kegagalan -part 4- [FINISH]

  1. Sebesar apapun rencana manusia, tidak akan lebih besar dari rencana Allah.

    Seriously, baper banget kak bacanya. Aku sangat termotivasi!
    Can’t wait to read the next story of yours.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s