PARADOX : SYUKURAN RAKYAT PELANTIKAN JOKOWI

Melihat sejenak ke decade terakhir, kita telah melihat perhelatan pesta demokrasi dan munculnya para pemimpin baru dari negara-negara di dunia: Vladimir “Agen KGB” Putin dari Federasi Rusia, Francoise  “Sosialis” Hollande dari Republik Prancis, Barrack “Jadi Presiden Lagi” Obama dari Amerika Serikat dan banyak figure lainnya.  Semarak euphoria akan pelantikan mereka , dari masing-masing rakyat yang mereka pimpin, menjadi sorotan mata masyarakat global. Walau tiap negara memiliki caranya masing-masing dalam merayakan inaugurasi sosok-sosok tersebut, namun setidaknya ada satu benang merah yang dapat kita tarik; suatu resemblance yang dapat kita munculkan. Apakah itu? Adalah nihilnya inisiatif rakyat yang menjadi jawabannya.

Coba luangkan waktu sejenak untuk m elihat prosesi inaugurasi yang megah dan flamboyan ala Federasi Rusia atau malam konvensi kemenangan Presiden Amerika Serikat yang diselenggarakan partai pendukungnya atau –menuju ke level yang lebih tinggi- rentetan parade kuda-kuda elit dari istal terbaik Republik Prancis yang menjaga keamanan prosesi pelantikan Presiden negara tersebut. Kita akan tersentak melihat betapa meriahnya acara pelantikan kepala negara mereka, tapi tunggu dulu! Seharusnya kita tidak usah kaget karena acara-acara tersebut memang bersifat protokoler –alias- mau tidak mau harus dilakukan. Pendanaannya telah dianggarkan, pun susunan acaranya sudah ditugaskan , oleh negara, untuk dirancang.

Pelantikan Presiden Prancis
Pelantikan Presiden Prancis
Pelantikan Presiden Rusia
Pelantikan Presiden Rusia

Namun, lain halnya yang baru kita saksikan dalam semarak pelantikan Presiden Republik Indonesia ke-8 (bukankah dia Presiden ke-7? Info lebih lanjut klik sini), Ir. Joko Widodo, pekan ini. Apapun nama yang diberikan publik pada acara ini –“Syukuran Rakyat”,”Pesta Rakyat”,”Gelora Trisakti”, maupun “Pesta Indonesia Baru” – kita mampu fahami satu hal yang pasti, bahwa acara ini merupakan bukti sukacita sukarela rakyat dalam mengaktualiasi semangat kebangkitan bangsa. Acara yang dapat simpulkan sebagai persembahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sebenarnya seperti apa gegap gembita inaugurasi ”wong solo” ini sebagai RI-1?

 “Saya sudah punya empat anak dan enam cucu. Saya sudah melihat pemilihan presiden dari zaman Soeharto. Tapi baru kali ini seramai ini,” ujar Farihin, yang ikut hadir dalam Syukuran Rakyat Salam Tiga Jari di Monumen Nasional, Jakarta, Senin (20/10).

Bentuk paling nyata dari partisipasi public adalah diadakannya jajanan gratis di sepanjang jalan MH Thamrin hingga monument nasional. Ribuan pedagang bakso, siomay, dan berbagai jenis minuman disiapkan untuk menjajakan makanan secara gratis.

Bakso Gratis, Sampe Habis!
Bakso Gratis, Sampe Habis!

Juga, Kharisma Jokowi ternyata mampu membuat orang-orang pelosok, seperti Andi Amiruddin , rela jauh-jauh datang dari Sulawesi Tenggara ke Jakarta hanya untuk melihat sosok Jokowi

“Saya mau lihat Jokowi,” ujarnya lantang saat diajak berbincang Tribunnews.com di Bundaran HI, Jakarta, Selasa (31/12/2013).

Amiruddin mengaku datang bersama 9 Kepala Desa di kawasan Kolaka Timur bersama dengan 19 orang lainnya sengaja datang ke Jakarta untuk melihat Jokowi secara langsung yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat layar kaca. Mereka mengaku berjalan kaki dari penginapan mereka di kawasan Juanda sampai dengan ke Bundaran HI untuk melihat Jokowi.

“Di Sulawesi Tenggara (Jokowi) tidak ada lawan, semua orang tahu,” tuturnya bersemangat.

Tanpa perlu kaget, “ektasi” kebahagiaan yang berlebihan dalam menyambut pelantikan Presiden Joko Widodo tak luput dari kritikan. Kritikannya pun beragam: ada yang konyol hingga yang benar-benar objektif. Contoh kecil misalnya adalah munculnya beberapa anggapan bahwa penggunaan kereta kuda dalam acara pelantikan tersebut merupakan symbol dari tegaknya kembali system feodalisme; sebuah system dimana bangsawan –yang identic dengan mengembarai kuda– memiliki dominasi atas rakyat jelata.

Adapun Partai Demokrat  yang mengkritisi rencana pesta rakyat dalam rangka perayaan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Ramadhan Pohan mengatakan, Jokowi beserta relawan semestinya cukup bersyukur. Sebab, tugas seorang presiden adalah bekerja untuk rakyat.

“Makanya saya katakan, Jokowi ini jadi presiden untuk bekerja, bukan berpesta,” kata Ramadhan, saat diskusi yang bertajuk “Berpisah dengan SBY” di Cikini, Jakarta Pusat, hari ini.

Senada dengan itu, banyak pihak yang mengeluhkan bahwa terjadi banyak kasus pencopetan selama acara syukuran rakyat berlangsung. Tujuh pencopet diamankan petugas kepolisian saat beraksi di Bundaran HI, Jakarta. Mereka beraksi di tengah-tengah pesta rakyat menyambut Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Ada tujuh copet tertangkap,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Bundaran HI,

Para pelaku saat ini berada di Polsek Menteng untuk dimintai keterangan. “Mereka ditangkap terpisah dan sekarang di Polsek Menteng,” ujarnya.

Tapi dari kesemua kritikan dan keluhan, ada satu hal yang paling jelas, gambling, dan –secara objektif– memang patut disesalkan. Apalagi kalau bukan : SAMPAH!

wpid-10441158_10205367713221117_6510632680188164659_n sampah-pesta-rakyat

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Saptastri Edningtyas mengatakan pihaknya telah membersihkan 80-100 ton sampah di kawasan Monumen nasional seusai pesta rakyat yang digelar untuk menyambut pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia.

“Ini adalah sampah terbanyak selama saya bertugas di Jakarta,” kata Tyas, sapaan akrab Saptastri, kepada Tempo, Selasa, 21 Oktober 2014.

Menurut Tyas, petugas membersihkan sampah secara bertahap selama pesta rakyat berlangsung. Pembersihan sampah bahkan sudah dilakukan sejak acara dimulai. Berdasarkan jadwal, pesta rakyat dimulai setelah Jokowi dilantik, tepatnya pada pukul 11.00 WIB, hingga pukul 24.00 WIB di Monas dan beberapa kawasan di sekitarnya.

Pembersihan sampah baru rampung pada Selasa pagi. Adapun pembersihan sampah di area Monas dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis Monas. Tyas mengaku sempat kelimpungan untuk menangani sampah yang cukup masif ini. Akhirnya, Dinas Kebersihan membagi jam kerja para petugas dan memaksimalkan mereka agar lokasi pesta bisa bersih dalam 24 jam.

Tyas mengatakan peserta peserta pesta rakyat ini belum menyadari pentingnya membuang sampah di tempat yang benar. Padahal, kata dia, Dinas Kebersihan telah menyiapkan tempat sampah di beberapa titik di sekitar Monas dan membagikan kantong plastik kepada para pedagang untuk membersihkan lapak mereka

OPINI

Sebenarnya, menurut saya tidak ada hal yang sangat salah dari acara syukuran rakyat untuk menyambut pelantikan Presiden Joko Widodo. Setidaknya, setelah 10 tahun saya melihat orang-orang di sekitar saya begitu antipasti terhadap pemerintah, saya masih melihat harapan; dan harapan itu ada pada Joko Widodo, tercerimin dari gegap gembita rakyat menyambutnya.

Namun, saya belum pernah mendengar –setidaknya hingga sekarang– apakah ada tujuan tertentu yang ingin dicapai dengan diadakannya syukuran rakyat (terutama yang diorganisir simpatisan Jokowi di Monas) pada momen tersebut. Apakah memang acara-acara public seperti itu dirancang sekedar sebagai show-off force, sebuah strategi yang kerap dilakukan pemimpin-pemimpin dunia di negara lain? Kita tidak tahu secara pasti. Yang jelas, orang tentu akan kecewa disaat sebuah lemabran baru harapan rakyat Indonesia akan dibuka, justru yang pertama kita lihat adalah tumpukan sampah.

Walaupun masih banyak yang harus dievaluasi dari perhelatan ini, kita pun harus tetap bijak dalam mengkritik. Kritik itu perlu, tapi harus membangun. Kritik tanpa tujuan baik itu pointless, hampa makna. Daripada larut dalam kritikan yang tidak jelas, alangkah baiknya jika kita mendoakan pemimpin kita. Berharap  bahwa segela keburukan yang kita persangkakan, akan terbantah dengan kinerja yang professional; kerja optimal yang mengembangkan senyum di ratusan juta wajah rakyat Indonesia. Layaknya Salim A. Fillah ,tokoh inspiratif saya yang mendukung Jokowi dengan doanya, saya berdoa Bapak Ir. Joko Widodo dapat amanah memegang kuasa no.1 di negeri ini.

salim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s