REDISCOVERY OF OUR REVOLUTION

Cap_Stigma_Manipol-USDEK

Sebab bangsa jang demikian itu –bangsa jang berani menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu memetjahkan kesulitan-kesulitan– bangsa jang demikian itu akan mendjadi bangsa jang gemblèngan

Di dalam pidato Bung Karno ini, terlihat dengan jelas bahwa Soekarno ingin mengembalikan cengkramannya terhadap Indonesia. Sempat tersubordinasi di masa Demokrasi Parlementer, Soekarno mampu memanfaatkan masa krusial, yakni tahun 1959, menjadi momen tepat untuk meraih restu rakyat. Ya, restu dari rakyat-rakyat yang tersihir dengan kharisma si Singa Podium ini. Walau panjang dan cukup kompleks, Presiden Soekarno mampu mengartikulasikan tujuan-tujuannya dalam pidatonya ini secara terstruktur. Penggunaan istilah-istilah asing yang kompleks dalam pidatonya mengisyaratkan pemahamannya yang luas dalam strategi perpolitikan. Bahkan, banyak yang menganggap pidato yang satu ini sebagai Manifesto Politik (Manipol) dari Presiden Soekarno.

Di awal pidatonya, Ia mampu memberi penjelasan singkat mengenai pengalaman historis Republik Indonesia di decade terakhir hingga status quo pada saat itu. Ia pun mampu memaparkan analisisnya tentang periodesasi perjuangan bangsa. Hingga pada bagian dimana dia melihat perjuangan bangsa ini telah mencapai titik jenuh. Bahwa revolusi yang harusnya mengalami percepatan justru mengalami regresi.

Soekarno juga membacakan ulang dekrit presiden yang ia bacakan sekitar sebulan sebelumnya, pada 5 Juli 1959. Dikarenakan waktunya yang berdekatan, Soekarno memanfaatkan momentum Hari Kemerdekaan di taun itu untuk memberikan penjelasan –atau lebih tepatynya justifikasi– terhadap aksi nekatnya tersebut. Bahkan ia mencapai saat dimana Ia mematenkan jalan revolusi yang ia buat. Ia menyatakan haramnya amandemen atau perubahan terhadap jalan revolusi beliau. Dengan membuat komparasi dengan manifesto berpengaruh dunia –declaration of independence ala Amerika, communist manifesto ala Soviet, Pax Romana, dsb- ia mampu memaksakan ideologinya terlihat logis dan urgen diterima.

Hebatnya, terlihat betul bahwa Presiden Soekarno ingin memosisikan Indonesia sejajar, bahkan lebih superior daripada negara-negara adidaya. Disaat di negara-negara lain berkembang masing-masing Pax mereka –Inggris dengan Pax Britannica, Soviet dengan Pax Sovietica, dsb– Soekarno dengan berani menyatakan bahwa manifesto yang ia rumuskan merupakan Pax Humanica, Pax yang pantas dan cocok untuk seluruh umat manusia. Dari sini dapat kita fahami sifat idealis Soekarno yang sangat membara, memandang manifesto yang ia buat sebagai yang terbaik.

Selanjutnya, Soekarno menekankan pentingya 3 hal yaitu “ordening”, “herordening”, dan “retooling” dari Pemerintah Republik Indonesia yang ia padang telah melenceng dari “jalur rel” revolusi yang sejati. Retooling yang ia canang jelas terlihat massif dan menyeluruh. Ia ingin mengatur ulung semua pilar-pilar negara : eksekutif, legislatif, partai politik, angkatan bersenjata, perkenomian, dan aspel-aspek vital lainnya. Dengan tegas ia sampaikan bahwa ketiga hal tadi tidak dapat terjadi jika Indonesia tidak kembali kepada UUD 1945. Ia pun terlihat sekali “melecehkan” konstituante yang menurutnya telah mengecewakan dan patuh dibubarkan. Tak jarang bahkan ia menyebut mereka sebagai “kegagalan Republik ini”.
Diakhir pidatonya, ia memahamkan bangsa ini bahwa perjalanan ini tentu tidak mudah. Ia mengistilahkannya sebagai berikut :

Kesulitan-kesulitan kita tidak akan lenjap dalam tempo satu malam. Kesulitan-kesulitan kita hanja akan dapat kita atasi dengan keuletan seperti keuletannja orang jang mendaki gunung. Tetapi: Berbahagialah suatu bangsa, jang berani menghadapi kenjataan demikian itu! Berani menerima bahwa kesulitan-kesulitannja tidak akan lenjap dalam tempo satu malam, dan berani pula menjingkilkan lengan-badjunja untuk memetjahkan kesulitan-kesulitan itu dengan segenap tenaganja sendiri dan segenap ketjerdasannja sendiri. Sebab bangsa jang demikian itu –bangsa jang berani menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu memetjahkan kesulitan-kesulitan– bangsa jang demikian itu akan mendjadi bangsa jang gemblèngan. Bangsa jang Besar, bangsa jang Hanjakrawarti-hambabaudenda. Bangsa jang demikian itulah hendaknja Bangsa Indonesia!

INTI
Soekarno melihat sistem-sistem demokrasi terdahulu di Indonesia sebagai suatu racun bagi bangsa Indonesia. Unsur-unsur individualisme yang tumbuh dalam demokrasi ala barat jelas menyangsikan nilai luhur bangsa Indonesia yaitu gotong royong. Itulah alasan ia membacakan Dekrit Presiden 1959 dan memasang GBHN berupa MANIPOL USDEK, untuk menyatupadukan bangsa Indonesia yang belum terintegrasi dibawah komandonya. Walau mengundang kontroversi atas tindakannya tersebut yang terkesan otoriter, Soekarno mampu menyangkal itu semua dengan elok:

Saudara-saudara! Saja tidak menjesal, bahwa saja pada tanggal 5 Djuli jang lalu telah mengadakan “Dekrit Presiden”. Saja malahan bersjukur kepada Tuhan, bahwa saja telah mengadakan Dekrit itu. Tindakan tegas jang berupa Dekrit Presiden itu saja ambil, bukan karena saja mau main diktaktor-diktatoran, tetapi karena berdasarkan kehendak Rakjat jang terbanjak melimpah-limpah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s